Menu

Otomatis
Breaking News

Artikel

Dari sungai kecil di Paluh Sibaji, semangat kemerdekaan kembali dikayuh.

badge-check

Dari sungai kecil di Paluh Sibaji, semangat kemerdekaan kembali dikayuh.Perbesar

PANTAI LABU//kompasnusa.net – Suara sorak-sorai pecah di tepian Sungai Kenang, Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang, Selasa (18/8/2026) siang.

Bukan suara mesin balap. Bukan pula dentuman musik panggung.

Yang terdengar justru suara dayung tabrakan udara, teriakan penyemangat dan riuh ribuan penonton yang menyaksikan pertarungan pertarungan di atas sampan-sampan tradisional.

Empat sampan melaju bersamaan.

Tiga pendayung di setiap sampan mengerahkan tenaga. Tangan terus mengayuh, badan bergerak mengikuti irama, sementara mata peringatan ke garis finis.

Begitu jaraknya semakin dekat, suasana semakin panas.

“Ayo! Ayo! Gas terus!”

Teriakan penonton menggema dari tepian sungai.

Inilah Lomba Dayung Sampan Tradisional yang digelar Pemerintah Desa Paluh Sibaji dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, bagi masyarakat Pantai Labu, kompetisi ini bukan sekedar hiburan menyambut 17 Agustus.

Di balik setiap kayuhan dayung, tersimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat pesisir dan nelayan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi tersebut bahkan telah berlangsung sejak tahun 1978.

Kini, hampir lima dekade berlalu, tradisi itu masih terus dilestarikan.

Kepala Desa Paluh Sibaji, Nasri, yang juga Ketua KONI Kecamatan Pantai Labu, menjadi salah satu sosok yang terus mendorong agar tradisi tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Tahun ini, sebanyak 14 tim ambil bagian. Mereka berasal dari tiga desa, yakni Desa Paluh Sibaji, Desa Pantai Labu Pekan dan Desa Regemuk.

Masing-masing tim diperkuat tiga orang pendayung.

Sejak pukul 14.30 WIB, satu per satu tim mulai turun ke arena.

Nama-nama tim yang bertarung pun cukup beragam, yakni Raissa 1, Raissa 2, Raissa 3, Raissa 4, Raissa 5, Garuda Muda, My Sodaro, Delima Laut 1, Delima Laut 2, Delima Laut 3, Delima Laut 4, Teratai, Nuri Indah dan Jaguar.

Ketegangan langsung terasa sejak babak penyusihan.

Panitia yang diketuai Saiful membagi para peserta ke dalam beberapa kelompok pertandingan. Empat sampan berlomba dalam satu babak, sementara sebagian babak lainnya diikuti lima tim.

Menariknya, pembukaan perlombaan dilakukan langsung oleh Kepala Desa Paluh Sibaji Nasri dari atas perahu motor, didampingi Ketua Panitia Saiful.

Suasana semakin bergemuruh ketika tanda dimulainya perlombaan terdengar.

Sampan-sampan langsung melesat!

Untuk pendayung sempitnya dayung tenaga. Air sungai pun berulang kali terpecah oleh hentakan dayung.

Tidak ada istilah menyerah sebelum garis finis.

Selisih beberapa meter saja bisa menentukan siapa yang melaju dan siapa yang harus tersingkir.

Dari tepian sungai, masyarakat terus memberikan dukungan kepada jagoannya masing-masing.

Animo masyarakat benar-benar luar biasa.

Ribuan penonton diperkirakan meadati lokasi perlombaan. Tidak hanya warga Kecamatan Pantai Labu, masyarakat dari luar kecamatan juga datang untuk menyaksikan langsung pertarungan sampan tradisional tersebut.

Bagi masyarakat setempat, pemandangan itu menjadi bukti bahwa tradisi lama masih memiliki tempat di hati generasi sekarang.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut perwakilan Camat Pantai Labu, Fitri.

 Bukan Sekadar Lomba, Tapi Warisan Leluhur

Nasri mengatakan, lomba dayung sampan tradisional tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya masyarakat pesisir Pantai Labu.

> “Lomba dayung sampan tradisional ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81, sekaligus melestarikan budaya atau tradisi masyarakat nelayan di Pantai Labu yang tidak boleh kalah dengan perkembangan zaman,” ujar Nasri.

Ia menegaskan, tradisi tersebut sudah ada sejak tahun 1978.

Oleh karena itu, menurutnya, generasi sekarang mempunyai tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

> “Lomba sampan dayung tradisional ini sudah ada sejak tahun 1978 dan harus terus dilestarikan. Jangan sampai tradisi yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat kita hilang ditelan zaman,” katanya.

 Delima Laut dan Jaguar Takluk, Nuri Indah Keluar Sebagai Juara

Persaingan semakin sengit setelah babak penyempurnaan selesai.

Dari 14 tim yang bertanding, terpilih delapan tim terbaik untuk melanjutkan perjuangan ke babak semifinal.

Ketegangan perlombaan semakin meningkat.

Setiap tim berusaha menjaga ritme kayuhan. Sedikit saja kehilangan keseimbangan atau terlambat mengayuh, posisi bisa langsung tertinggal.

Hingga akhirnya, empat tim berhasil mengamankan tiket Grand Final.

Keempatnya adalah Delima Laut 1, Delima Laut 2, Jaguar dan Nuri Indah.

Babak Grand Final pun menjadi puncak pertarungan.

Kembali dilepas langsung oleh Kepala Desa Paluh Sibaji Nasri, keempat tim mengambil posisi masing-masing.

Ketika aba-aba diberikan, keempat sampan langsung bergerak.

Kayuhan semakin cepat.

Semakin marah.

Dan garis finis pada akhirnya menentukan segalanya.

Nuri Indah berhasil menjadi yang tercepat dan keluar sebagai juara pertama.

Sementara Delima Laut 1 harus puas berada di posisi kedua, disusul Jaguar sebagai juara ketiga dan Delima Laut 2 di posisi keempat.

Ketua Panitia Saiful mengatakan, seluruh rangkaian perlombaan berlangsung dengan meriah dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

> “Setelah babak penyisihan, kita ambil delapan besar untuk masuk semifinal. Kemudian ada empat tim yang berhasil masuk Grand Final, yaitu Delima Laut 1, Delima Laut 2, Jaguar dan Nuri Indah,” kata Saiful.

Dalam perlombaan tersebut, para pemenang tidak hanya membawa pulang kebanggaan.

Masing-masing juara mendapatkan trofi, uang pelatihan dan beras sebanyak 90 kilogram.

Juara pertama diraih Tim Nuri Indah, juara kedua Delima Laut 1, juara ketiga Jaguar, dan juara keempat Delima Laut 2.

Bagi masyarakat Paluh Sibaji dan Pantai Labu, kemenangan memang penting.

Namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana dayung, sampan dan tradisi leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Sebab, selama sampan masih melaju dan dayung masih menghantam udara Sungai Kenang, cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir dan warisan para pendahulu mereka akan tetap terdengar.

Dari sungai kecil di Paluh Sibaji, semangat kemerdekaan kembali dikayuh.

Dan tahun ini, tradisi yang lahir sejak tahun 1978 itu kembali membuktikan bahwa warisan leluhur tidak harus menjadi kenangan—ia bisa terus hidup, selama ada generasi yang mau menjaganya.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Juga

Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI di Deli Serdang Berjalan Lancar, Sejumlah Penghargaan Diserahkan

17 Aug 2026 - 14:46 WIB

Penurunan Bendera HUT Ke-81 RI di Deli Serdang Berjalan Lancar, Sejumlah Penghargaan Diserahkan

Tak Sekadar Libur, PT Citra Kencana Industri Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Karyawan Padati Halaman Pabrik

17 Aug 2026 - 06:48 WIB

Tak Sekadar Libur, PT Citra Kencana Industri Gelar Upacara HUT ke-81 RI, Karyawan Padati Halaman Pabrik

Ketua KB FKPPI Tanjung Morawa: HUT RI ke-81 Jadi Momentum Perkuat Persatuan dan Stabilitas Wilayah

17 Aug 2026 - 05:31 WIB

Ketua KB FKPPI Tanjung Morawa: HUT RI ke-81 Jadi Momentum Perkuat Persatuan dan Stabilitas Wilayah

Upacara HUT ke-81 RI di Tanjung Morawa Berlangsung Khidmat,Ribuan Peserta Ikuti Devile Menuju Tugu Pahlawan

17 Aug 2026 - 05:20 WIB

Upacara HUT ke-81 RI di Tanjung Morawa Berlangsung Khidmat,Ribuan Peserta Ikuti Devile Menuju Tugu Pahlawan

Hujan Tak Padamkan Semangat! Batak United Angkat Trofi PKN Sumut Cup I 2026

9 Aug 2026 - 16:05 WIB

Hujan Tak Padamkan Semangat! Batak United Angkat Trofi PKN Sumut Cup I 2026
Trending on Artikel