Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Blog

Bendungan Lau Simeme Dibidik Jadi Destinasi Wisata Andalan Deli Serdang, Peluang Emas atau Sekadar Janji di Atas Panorama?

badge-check

Bendungan lau dimeme (istimewa) Perbesar

Bendungan lau dimeme (istimewa)

Bendungan Lau Simeme Dibidik Jadi Destinasi Wisata Andalan Deli Serdang, Peluang Emas atau Sekadar Janji di Atas Panorama?

 

BIRU-BIRU, DELI SERDANG//kompasnusa.net – Keindahan alam Bendungan Lau Simeme di Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang, menyimpan potensi besar untuk menjadi destinasi wisata air dan alam unggulan Sumatera Utara. Perpaduan hamparan perairan, perbukitan, dan panorama alam yang memikat menjadi modal besar untuk mengembangkan kawasan ini sebagai ikon wisata baru.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: jangan sampai keindahan alam hanya menjadi bahan promosi, sementara masyarakat sekitar tidak ikut menikmati hasilnya.

Di tengah gagasan besar menjadikan Lau Simeme sebagai kawasan wisata, publik tentu menaruh harapan sekaligus menunggu pembuktian.

Apakah pengembangan ini benar-benar akan membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan UMKM, dan meningkatkan ekonomi warga? Atau justru kawasan yang memiliki potensi luar biasa ini nantinya hanya menjadi tempat wisata tanpa memberikan dampak ekonomi yang berarti bagi masyarakat setempat? Pertanyaan tersebut penting dijawab sejak awal.

Bukan Bendungan Biasa, Ada Kepentingan Besar di Baliknya

Bendungan Lau Simeme bukan sekadar bangunan penampung air dengan pemandangan indah. Infrastruktur strategis nasional yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan ini memiliki fungsi vital bagi kebutuhan masyarakat.

Secara teknis, bendungan bertipe urugan batu dengan inti tegak tersebut memiliki tinggi 73,5 meter dari dasar sungai, panjang puncak 205 meter, dan luas genangan sekitar 125 hektare. Kapasitas tampungnya mencapai 21,07 juta meter kubik.

Pembangunannya dimulai pada 2018 dengan pembiayaan sekitar Rp1,7 triliun dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 16 Oktober 2024.

Bendungan ini dirancang untuk mendukung penyediaan air baku sebesar 2.850 liter per detik, pengendalian banjir, kebutuhan irigasi, hingga potensi pembangkit listrik minihidro berkapasitas 1 megawatt.

Bahkan, kemampuan reduksi debit banjir dirancang mencapai 289 meter kubik per detik melalui sistem early release, serta 117 meter kubik per detik melalui Kanal Deli–Percut sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir terkait.

Artinya, Lau Simeme memiliki kepentingan publik yang jauh lebih besar daripada sekadar destinasi rekreasi.

Karena itu, pengembangan wisata di kawasan ini tidak boleh mengorbankan fungsi utama bendungan.

 Bupati Ingin Lau Simeme Jadi Magnet Wisata Baru

Bupati Deli Serdang, dr. H. Asri Ludin Tambunan, melihat potensi besar yang dimiliki kawasan Lau Simeme.

Melalui gagasan pengembangan kawasan wisata air dan alam, Bupati mendorong seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), dari tingkat atas hingga bawah, untuk ikut menjaga dan mendukung perkembangan kawasan tersebut.

Pengisian awal air Bendungan Lau Simeme sendiri dimulai pada 17 September 2026. Kehadiran hamparan perairan yang berpadu dengan perbukitan semakin membuka peluang pengembangan wisata alam, fotografi, kuliner, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.

Rencana pengembangan tersebut dipaparkan melalui PT Bhineka Perkasa Jaya (BPJ), BUMD milik Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, sebagai bagian dari upaya mendorong Lau Simeme menjadi destinasi wisata yang aman, tertata, terjangkau, dan berkelanjutan.

 Delapan Konsep Wisata, Siapkah Direalisasikan?

Dalam rencana pengembangannya, terdapat delapan komponen utama yang diproyeksikan menjadi daya tarik kawasan Lau Simeme, yakni:

1. Gerbang dan pusat informasi wisata.

2. Wisata air.

3. Jalur trekking dan sepeda.

4. Menara pandang.

5. Area berkemah dan glamping.

6. Sentra kuliner dan UMKM.

7. Wisata edukasi bendungan.

8. Festival dan atraksi wisata.

Jika seluruh konsep tersebut benar-benar diwujudkan, Lau Simeme berpotensi menjadi kawasan wisata yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar menikmati pemandangan.

Pengunjung dapat menikmati wisata alam, aktivitas luar ruang, kuliner lokal, hingga edukasi mengenai pengelolaan sumber daya air.

Namun, masyarakat tentu tidak cukup hanya disuguhi daftar rencana dan gambar konsep pembangunan.

Kapan mulai dibangun? Berapa anggaran yang disiapkan? Siapa yang bertanggung jawab? Bagaimana mekanisme pengelolaannya? Dan yang paling penting, sejauh mana masyarakat lokal akan dilibatkan?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab secara terbuka agar pengembangan Lau Simeme tidak berhenti sebagai wacana yang indah di atas kertas.

 Jangan Sampai Wisata Berkembang, Masyarakat Justru Tersisih

Inilah persoalan yang harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan pihak pengelola.

Pengembangan destinasi wisata seharusnya tidak hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.

Warga Biru-Biru dan desa-desa di sekitarnya harus memperoleh ruang untuk berkembang. Pedagang kecil, pelaku UMKM, kelompok pemuda, pengelola jasa wisata lokal, hingga masyarakat yang memiliki produk unggulan daerah harus diberi kesempatan terlibat.

Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton ketika kawasan tempat tinggal mereka berkembang menjadi destinasi wisata bernilai ekonomi tinggi.

Pemerintah harus memikirkan pola kemitraan yang adil, akses usaha yang terbuka, pelatihan keterampilan, serta peluang kerja bagi warga setempat.

Sebab, keberhasilan pembangunan wisata bukan hanya diukur dari megahnya fasilitas, tetapi juga dari seberapa besar kesejahteraan masyarakat ikut meningkat.

Keselamatan dan Lingkungan Jangan Dikorbankan

Ada satu hal yang tidak boleh ditawar: Bendungan Lau Simeme tetap merupakan infrastruktur sumber daya air yang memiliki fungsi strategis.

Kawasan tubuh bendungan, saluran pelimpah, bangunan pengambilan air, serta zona perlindungan tidak boleh diperlakukan seperti ruang wisata bebas tanpa pembatasan.

Setiap aktivitas wisata air maupun kegiatan rekreasi harus mendapat persetujuan pengelola dan memenuhi ketentuan teknis, keselamatan, serta perizinan yang berlaku.

Pengelolaan sampah, sanitasi, akses jalan, rambu keselamatan, fasilitas darurat, dan kapasitas pengunjung juga harus disiapkan secara serius.

Jangan sampai kawasan yang dibangun dengan investasi triliunan rupiah justru menghadapi persoalan baru akibat pengelolaan wisata yang tidak terencana.

Lau Simeme Butuh Bukti, Bukan Sekadar Promosi

Potensi Lau Simeme memang luar biasa. Keindahan alamnya sudah menjadi modal awal. Dukungan pemerintah daerah juga menjadi peluang untuk mempercepat pengembangannya.

Namun, keberhasilan tidak ditentukan oleh banyaknya pernyataan optimistis atau indahnya konsep pembangunan.

Keberhasilan akan terlihat ketika fasilitas benar-benar tersedia, pengelolaan berjalan profesional, lingkungan tetap terjaga, pengunjung merasa aman, dan masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, PT Bhineka Perkasa Jaya, dan BBWS Sumatera II perlu membangun koordinasi yang jelas mengenai kewenangan, tahapan pembangunan, investasi, dan pengelolaan kawasan.

Publik juga berhak mengetahui perkembangan rencana tersebut secara transparan.

Lau Simeme jangan hanya menjadi kebanggaan karena keindahan panoramanya. Jadikan kawasan ini kebanggaan karena mampu menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat.

Pada akhirnya, ada tiga pertanyaan besar yang patut dijawab:

Siapa yang akan mengelola? Siapa yang akan menikmati keuntungan ekonominya? Dan apakah masyarakat sekitar benar-benar menjadi bagian dari pembangunan?

Sebab, destinasi wisata yang hebat bukan hanya tempat yang ramai dikunjungi, tetapi tempat yang mampu mengangkat kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Lau Simeme punya keindahan. Pemerintah punya rencana. Sekarang masyarakat menunggu bukti nyata!

@riolubis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Juga

Kemenpar Apresiasi Festival Berlabuh yang Ramah Disabilitas

31 Oct 2026 - 05:56 WIB

Kemenpar Apresiasi Festival Berlabuh yang Ramah Disabilitas

Reses Panas di Buntu Bedimbar, Warga Curhat Soal Jalan Sempit Dihantam Truk Hingga layanan Rumah sakit Lamban

31 Oct 2026 - 02:28 WIB

Reses Panas di Buntu Bedimbar, Warga Curhat Soal Jalan Sempit Dihantam Truk Hingga layanan Rumah sakit Lamban

Kuasa Hukum Kesultanan Asahan Paparkan Peta Konsesi, Soroti Status Lahan PT BSP dan Misteri 1.408 Ha

28 Oct 2026 - 07:57 WIB

Kuasa Hukum Kesultanan Asahan Paparkan Peta Konsesi, Soroti Status Lahan PT BSP dan Misteri 1.408 Ha

Sinergi Pemerintah, Aparat Keamanan, Dunia Usaha, dan Masyarakat Jadi Kunci Sukses Kegiatan Olahraga di Desa Sembahe Baru

12 Oct 2026 - 07:24 WIB

Sinergi Pemerintah, Aparat Keamanan, Dunia Usaha, dan Masyarakat Jadi Kunci Sukses Kegiatan Olahraga di Desa Sembahe Baru

Bhabinkamtibmas Polsek Talun Kenas Jadi Irup di SD Al Rasyid, Sampaikan Pesan Disiplin dan Antibullying

28 Sep 2026 - 06:56 WIB

Bhabinkamtibmas Polsek Talun Kenas Jadi Irup di SD Al Rasyid, Sampaikan Pesan Disiplin dan Antibullying
Trending on Blog