Menu

Dark Mode
Mengintip Kelas Jurnalisme Bersama Sang Praktisi di UIN Sumatera Utara, ‘Menyentuh Hati Lewat Kata’ Madrasah Alwashliyah Kota Tanjungbalai Gelar Validasi Akreditasi Bersama Tim Asesor BAN-PDM Tahun 2026 Skandal Dugaan “Jual Beli Kursi Kepsek” di Deli Serdang Menguak, Aroma Transaksi Jabatan Kian Menyengat HIMA Hukum Universitas Quality Tegaskan Komitmen Sosial dan Sinergi Kampus Pelantikan Pengurus DPD IKA UNAND Sumatera Utara Program Mentari Bangsaku Food Bank of Indonesia Salurkan 1.000 Snack untuk Pelajar di Deli Serdang

News

Ketergantungan pada PLN Bukan Lagi Pilihan Bijak, Tokoh Muda Al Washliyah Beberkan 5 Opsi Mandiri Energi

badge-check


					Ketergantungan pada PLN Bukan Lagi Pilihan Bijak, Tokoh Muda Al Washliyah Beberkan 5 Opsi Mandiri Energi Perbesar

MEDAN – KOMPASNUSA.NET// Peristiwa pemadaman listrik total (blackout) massal yang melumpuhkan aktivitas warga di empat provinsi baru-baru ini memicu kritik beruntun dari berbagai elemen masyarakat.

Momentum kelam ini dinilai menjadi alarm keras bagi masyarakat Indonesia untuk segera memikirkan opsi mandiri energi dan mulai melepaskan ketergantungan mutlak dari perusahaan listrik milik negara.

Tanggapan taktis tersebut dilontarkan oleh Amaluddin Hasibuan, S.Pd., akademisi sekaligus aktivis pemuda yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Gerakan Pemuda Al Washliyah (GP Al Washliyah) Sumatera Utara.

Menurut Amal, mengandalkan satu sumber energi tunggal di tengah fluktuasi tarif dan bayang-bayang pemadaman massal pada tahun 2026 ini sudah tidak lagi relevan bagi ketahanan domestik.”Indonesia diberkati dengan potensi energi terbarukan yang sangat melimpah, tetapi kita masih terlalu bergantung pada PLN yang mayoritas pasokan listriknya masih menggunakan batu bara.

Beruntung, saat ini banyak teknologi energi alternatif yang bisa dibangun dalam skala kecil untuk kebutuhan mandiri rumah tangga,” ujar Amaluddin dalam analisisnya, Minggu (24/5).Rapor Kelayakan 5 Energi Alternatif Skala Rumah TanggaBerdasarkan fakta geografis dan perkembangan teknologi terkini, Amaluddin memetakan lima sumber energi alternatif yang layak dipertimbangkan oleh masyarakat beserta analisis komparasi kelayakannya: Jenis Energi Alternatif Estimasi Biaya Awal Tingkat Kelayakan Rumah Tangga Catatan & Rekomendasi Opini Energi Surya (PLTS Atap) Rp15 – 40 Juta (Kapasitas 1–3 kWp) Sangat Tinggi (Paling realistis di perkotaan) Indonesia memiliki radiasi matahari rata-rata 4,8 kWh/m²/hari.

Masa balik modal (payback period) sekitar 5–8 tahun. Disarankan menggunakan sistem hybrid dengan baterai lithium agar tetap menyala saat pemadaman malam hari.Biogas DomestikRp5 – 15 Juta(Digester 4–10 m³)Tinggi(Khusus daerah pinggiran/desa)Memanfaatkan limbah organik atau kotoran ternak untuk menghasilkan listrik dan gas memasak bagi 1–2 keluarga.

Solusi ekonomi sirkular yang ampuh menekan emisi metana.Mikro & Pico HydroVariatif(Sesuai kapasitas alat)Sedang(Sangat bergantung pada lokasi)Memanfaatkan aliran air dengan tinggi jatuh (head) minimal 2–3 meter. Sangat stabil dan operasional murah, cocok untuk warga di dekat irigasi atau kawasan pegunungan Sumatera Utara.Energi Angin (Turbin Kecil) Variatif Rendah (Kurang cocok di Medan) Potensi angin tidak stabil di wilayah Medan dan sekitarnya.

Tidak disarankan menjadi andalan utama, melainkan hanya sebagai pelengkap (hybrid) pendamping panel surya. Geothermal & Energi LautSkala IndustriTidak Layak(Hanya untuk korporasi/negara) Meskipun potensinya raksasa, teknologi ini berada di luar kapasitas rumah tangga karena membutuhkan modal raksasa dan regulasi makro pemerintah.

3 Alasan Utama Rumah Tangga Harus Membangun “Kedaulatan Energi”Di akhir analisisnya, Wakil Sekretaris GP Al Washliyah Sumut ini menekankan bahwa langkah beralih ke energi alternatif bukan lagi sekadar gaya hidup hijau, melainkan kebutuhan mendesak yang dilandasi tiga pilar utama:Ketahanan Domestik: Mengamankan pasokan listrik mandiri dan menghindarkan aktivitas keluarga dari dampak kerugian ekonomi akibat pemadaman massal sepihak.

Efisiensi Ekonomi: Menjadi investasi jangka menengah yang secara signifikan mampu memotong pengeluaran bulanan dari lonjakan tarif listrik konvensional.

Dampak Lingkungan: Berkontribusi nyata dan taktis dalam mengurangi emisi karbon akibat pembakaran bahan bakar fosil yang memicu krisis iklim.”Rekomendasi praktis saya, untuk rumah di perkotaan seperti Medan, mulailah berinvestasi dengan PLTS Atap Hybrid 2–5 kWp. Sementara untuk wilayah pinggiran, kombinasikan solar dengan biogas atau mikro hydro. Kita tidak perlu terus-menerus menunggu pemerintah menyelesaikan semuanya, karena teknologinya sudah tersedia, matang, dan terjangkau di pasar lokal,” pungkas Amaluddin.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Tersangka Dugaan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Di Pelaku Akhirnya Ditahan, LPA Deli Serdang Apresiasi Langkah Cepat Polresta Deli Serdang

24 May 2026 - 14:31 WIB

Pelantikan DPRA PKS Kabupaten Batu Bara Berlangsung Khidmat di Albarokah

24 May 2026 - 13:49 WIB

Wujud Kepedulian Polri, Polsek Sei Tualang Raso Gelar ‘Minggu Kasih’ dan Berbagi Sembako

24 May 2026 - 13:42 WIB

Bandara Internasional Kualanamu Tetap Beroperasi Normal Pascapemadaman Listrik di Wilayah Sumbagut

24 May 2026 - 03:41 WIB

Tasyakkuran Kelulusan, Pesantren Al-Husna Hadirkan Panggung Gembira Gradatim Generation 2026

24 May 2026 - 03:37 WIB

Trending on News