Hingga kini, kepastian jumlah korban jiwa belum terungkap secara jelas. Informasi yang beredar di masyarakat pun dinilai simpang siur dan terkesan masih ditutup rapat oleh pihak-pihak terkait di kawasan tambang yang disebut-sebut mampu memproduksi hingga satu ton emas per tahun tersebut.
Peristiwa yang terjadi pada Selasa dini hari (13/1/2026) itu semakin mengundang perhatian publik setelah beredar kabar di media sosial yang menyebutkan ratusan penambang liar atau yang biasa disebut gurandil menjadi korban.
Menanggapi isu tersebut, Bupati Bogor Rudy Susmanto secara terbuka membantah klaim yang menyebut jumlah korban mencapai 700 orang. Sehari setelah kejadian, ia mengaku telah menggelar rapat bersama pihak Antam dan Forkopimcam Nanggung untuk memastikan informasi yang sebenarnya.
Menurut Rudy, pihak Antam menjelaskan bahwa sumber asap berasal dari salah satu lubang tambang sekitar pukul 00.30 WIB dan pada saat itu tidak ada aktivitas operasional resmi di lokasi.
“Istilah 700 yang beredar itu bukan jumlah korban, melainkan penamaan level lubang tambang,” ujarnya, Rabu (14/1/2026). Ia juga menegaskan bahwa Antam telah memastikan tidak ada korban dari pihak pekerja perusahaan.
Hal senada disampaikan Humas PT Antam, Farid. Ia membantah keras isu ledakan maupun klaim ratusan korban jiwa.
“Tidak terjadi ledakan, tidak ada kebocoran gas berbahaya, dan tidak ada korban jiwa maupun pekerja yang terjebak. Istilah L.700 yang beredar adalah nama portal tambang yang saat ini sudah tidak digunakan,” jelasnya.
Farid menerangkan, peristiwa dalam video yang viral merupakan dokumentasi penanganan teknis akibat munculnya asap di area tambang bawah tanah L.600 Ciurug.
“Asap diduga berasal dari kayu penyangga yang terbakar sehingga meningkatkan kadar karbon monoksida (CO) di atas ambang aman. Sesuai prosedur keselamatan, aktivitas langsung dihentikan sementara, sistem ventilasi disesuaikan, dan area terdampak diisolasi hingga kondisi dinyatakan aman,” tambahnya.
Namun, pernyataan resmi tersebut justru memunculkan kecurigaan dari sejumlah pihak. Ketua Umum Ikatan Wartawan Online (IWO) sekaligus Ketua Umum Forum Masyarakat Pemantau Negara (Formapera), Teuku Yudhistira, menilai ada indikasi extra ordinary crime dalam peristiwa ini.
Menurut Yudhis, pihaknya menemukan dugaan praktik jual beli “jam tambang” yang memungkinkan penambang ilegal masuk ke area tambang Antam di luar jam operasional resmi.
“Diduga kuat, pada jam-jam tertentu, khususnya tengah malam, para gurandil bisa masuk karena ada oknum yang bermain. Kami masih mendalami siapa yang menjual jam dan kepada siapa para gurandil menyetor,” tegasnya, Senin (19/1/2026).
Ia juga menyebut telah mengantongi beberapa nama yang diduga terlibat, termasuk seorang berinisial HE yang disebut sebagai pemilik tambang emas ilegal di Kampung Malasari, yang lubangnya diduga terhubung hingga ke kawasan Tambang Pongkor.
“Analisis kami menunjukkan masih banyak hal yang ditutupi. Pernyataan Antam terkesan ingin meredam isu 700 korban sekaligus menutup pembahasan soal aktivitas tambang ilegal di kawasan tersebut,” ujarnya.
Yudhis pun menilai bantahan cepat dari Bupati Bogor terkesan tergesa-gesa dan seharusnya proses penyelidikan diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
“Kami menduga masih ada korban yang belum dievakuasi dari dalam lubang tambang. Memang benar ada istilah level 700, tapi yang harus dijawab: apakah benar tidak ada korban jiwa sama sekali?” katanya.
Atas dasar itu, IWO dan Formapera mendesak PT Antam dan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk membuka data secara transparan dan mengusut tuntas dugaan permainan oknum di balik aktivitas tambang ilegal tersebut.







