Menu

Dark Mode
Mengintip Kelas Jurnalisme Bersama Sang Praktisi di UIN Sumatera Utara, ‘Menyentuh Hati Lewat Kata’ Madrasah Alwashliyah Kota Tanjungbalai Gelar Validasi Akreditasi Bersama Tim Asesor BAN-PDM Tahun 2026 Skandal Dugaan “Jual Beli Kursi Kepsek” di Deli Serdang Menguak, Aroma Transaksi Jabatan Kian Menyengat HIMA Hukum Universitas Quality Tegaskan Komitmen Sosial dan Sinergi Kampus Pelantikan Pengurus DPD IKA UNAND Sumatera Utara Program Mentari Bangsaku Food Bank of Indonesia Salurkan 1.000 Snack untuk Pelajar di Deli Serdang

Organisasi

Konflik AS-Israel dan Iran, PP HIMMAH Minta Pemerintah Kencangkan Hilirisasi Minyak Mentah

badge-check


					Konflik AS-Israel dan Iran, PP HIMMAH Minta Pemerintah Kencangkan Hilirisasi Minyak Mentah Perbesar

Jakarta – Kompasnusa.net// (6/3/2026) Eskalasi Konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran yang semakin memanas, Ketua Umum PP HIMMAH Abdul Razak Nasution meminta Pemerintah untuk mempercepat program Hilirisasi agar Indonesia tidak bergantung pada impor minyak.

Hal itu dijelaskan Razak di Jakarta(6/3)kepada wartawan.

Menurutnya jika Negara Kita sudah mandiri dan bisa memproduksi minyak sendiri Negraa Kita tidak bergantung kepada impor minyak dari luar apalagi
kondisi geopolitik global yang semakin memanas ini, sedikit banyaknya pasti berimbas kepada Indonesia.

“Kondisi saat ini bulan ramadhan menjelang lebaran rakyat Indonesia sedang fokus beribadah jangan lagi sampai dibuat pusing dampak dari konflik AS-Israel dan Iran ini bisa berakibat harga-harga kebutuhan pokok atau BBM naik, semoga tidak,” harapnya

“Walaupun Pak Presiden Prabowo telah memerintahkan Menteri ESDM untuk membangun (storage) minyak mentah di Sumatera yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional, Kita perlu mempercepat hilirisasi agar Negara Kita bisa mandiri mengolah minyak mentah (crude oil) sendiri dan tak bergantung kepada Impor minyak.” Jelasnya.

Ia menambahkan saat ini Selat Hormuz telah ditutup Iran. Sekitar seperlima dari total minyak mentah dunia melewati jalur ini yang tercatat memiliki peredaran hingga 20,1 juta barel per hari (bph).

“Pak Menteri ESDM Kita telah menjelaskan bahwa walaupun hanya 25 % kebutuhan minyak Kita lewat Selat Hormus, selebihnya lewat jalur lain, tapi jangan sampai Amerika Serikat menekan harga minyak yang berakibat langsung kepada rakyat Indonesia, Karena Indonesia resmi impor minyak dari Amerika penghanti impor minyak dari Timur Tengah,” terangnya.

Lanjut Razak, Saat konflik meningkat, perusahaan pelayaran dan perdagangan energi biasanya langsung menaikkan premi risiko atau bahkan menunda pengiriman. Artinya, tanpa penutupan resmi pun, harga sudah terdorong naik hanya karena faktor ketidakpastian.

“Harga minyak yang naik pasti berefek domino ke seluruh ekonomi. Minyak bukan sekadar energi, tetapi bahan baku dan input utama bagi banyak sektor yakni transportasi, industri, petrokimia, hingga produksi pangan. Ketika biaya minyak naik, seluruh biaya produksi dan distribusi ikut naik, yang pada akhirnya diterjemahkan ke dalam bentuk inflasi harga barang dan jasa di banyak negara,”tambahnya.

Indonesia, meskipun memiliki sumber daya energi sendiri, tetap merupakan negara yang bergantung pada impor minyak mentah dan LPG. Ketika harga minyak internasional meningkat, ada beberapa dampak langsung dan tidak langsung yang akan dirasakan oleh ekonomi Negara Kita khsususnya harga-harga kebutuhan pokok yang berakibat langsung kepada rakyat Indonesia. Tutupnya.

Facebook Comments Box

Baca Juga

Wali Kota Tanjungbalai Terima Audiensi PC.Himmah Kota Tanjungbalai

23 April 2026 - 08:34 WIB

Proyek Revitalisasi SMP Muhammadiyah 36 Tanjung Tiram Diduga Gunakan Kusen Bira-Bira

21 April 2026 - 06:27 WIB

Galian C Ilegal di Medan Sinembah Porak-Porandakan Jalan Baru di Aspal

10 April 2026 - 15:42 WIB

Jakarta Gelap Gulita, GM PLN UID Jaya Santai Bersepeda Pagi Hari

10 April 2026 - 13:02 WIB

Kolaborasi LPA Deli Serdang Dengan Kades Skip Buka Ruang Pada Anak Bangsa Untuk Hadapi Tantangan Di Era Digitalisasi

6 April 2026 - 15:31 WIB

Trending on Headline