PalmCo Percepat Proyek Gas Biomethane dari Limbah Sawit, Dorong Ketahanan Energi dan Tekan Emisi
JAKARTA//kompasnusa.net— Upaya memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan emisi karbon terus didorong melalui inovasi di sektor perkebunan. PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mempercepat pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau *Palm Oil Mill Effluent* (POME) di berbagai wilayah operasionalnya sepanjang tahun 2026.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam merespons penurunan produksi gas bumi nasional, sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih berbasis sumber daya domestik.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, mengatakan, pada tahun 2026 perusahaan memprioritaskan pelaksanaan groundbreaking delapan unit CBG baru dari total 17 proyek yang direncanakan. Saat ini, satu unit telah dalam tahap pembangunan.
“Fokus kami tidak hanya membangun fasilitas, tetapi memastikan integrasi dari hulu ke hilir—mulai dari produksi, distribusi, hingga kepastian pasar melalui skema offtaker,” kata Jatmiko dalam keterangan di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, pengembangan CBG diarahkan untuk membangun ekosistem energi hijau yang berkelanjutan. Selain menekan emisi gas rumah kaca, proyek ini juga diharapkan menciptakan nilai ekonomi baru dari limbah industri sawit.
PalmCo saat ini secara aktif mengelola 68 pabrik kelapa sawit dengan kapasitas olah tandan buah segar (TBS) mencapai sekitar 12 juta ton per tahun. Dari proses tersebut dihasilkan sekitar 7,2 juta ton limbah cair POME setiap tahun—yang selama ini menjadi salah satu sumber emisi terbesar di pabrik kelapa sawit.
Melalui teknologi *methane capture* dan *upgrading*, limbah cair itu diolah menjadi biomethane dengan kandungan metana lebih dari 95 persen. Gas tersebut kemudian dikompresi menjadi CBG yang dapat dimanfaatkan sebagai gas substitusi alam, seperti gas alam terkompresi (CNG).
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan POME dinilai signifikan. Limbah ini berkontribusi sekitar 44 persen terhadap total emisi gas rumah kaca di pabrik kelapa sawit, dengan perkiraan mencapai 200 kilogram CO2 ekuivalen per meter kubik. Pengolahannya menjadi CBG tidak hanya menekan emisi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah limbah.
Bagian dari strategi dekarbonisasi
Jatmiko menegaskan, proyek CBG menjadi salah satu pilar utama dalam strategi dekarbonisasi perusahaan, sekaligus mendukung agenda Proyek Strategis Nasional (PSN).
“Ini bukan sekedar proyek energi, tapi bagian dari kontribusi kami terhadap target penurunan emisi nasional,” ujarnya.
Dalam roadmap dekarbonisasinya, PalmCo sendiri hingga tahun 2030 menargetkan hingga 2030 sebanyak 40an pabrik kelapa sawit akan dioptimalkan untuk proyek berbasis energi baru terbarukan. Baik dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Biogas, CBG, Biogas Cofiring hingga Pembangkit Listrik Tenaga Biomass.
Program tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 230.000 ton CO2 ekuivalen pada tahun 2026. Dalam jangka panjang, total potensi penurunan emisi diperkirakan mencapai 0,9 juta ton CO2 ekuivalen hingga tahun 2030.
Selain manfaat lingkungan, proyek ini juga dinilai menjanjikan dari sisi ekonomi. PalmCo memperkirakan terjadi peningkatan nilai hingga 22 kali lipat dibandingkan skema bisnis konvensional. Potensi pendapatan mencapai sekitar Rp 42,5 miliar per tahun, yang berasal dari skema bagi hasil, kredit karbon, serta pemanfaatan aset lahan.
Untuk didistribusikan, produk CBG akan diserap oleh PT Pertagas melalui skema *free on board* (FOB). Pengiriman dilakukan menggunakan truk menuju Sei Mangkei sebagai salah satu pusat permintaan, guna memastikan kesinambungan rantai pasok energi hijau.
Transformasi Kontinu
Jatmiko menambahkan, pengembangan CBG merupakan bagian dari transformasi jangka panjang perusahaan dalam menjaga keinginan bisnis di tengah kebutuhan dekarbonisasi global.
“PalmCo ingin memastikan setiap langkah bisnis tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berdampak nyata bagi lingkungan dan ketahanan energi nasional,” kata dia.
Langkah ini menekankan perubahan peran industri sawit, dari sekadar produsen komoditas menjadi bagian penting dalam ekosistem energi terbarukan Indonesia.






