Menu

Dark Mode
Densus 88 Anti Teror Gelar Sosialisasi di Lingkungan Pelajar DPRD Desak Pemkab Nias Utara Segera Tentukan Nasib Guru Honor Secara Hukum Perkuat Literasi Sains, SMA Muhammadiyah 02 Medan Resmikan Lab IPA dan Fasilitas Sanitasi Modern Liburan Sekolah Makin Asik, Kolam Renang BUMD Deli Serdang Gandeng Wak Udin, Bintang Iklan Kocak Beri Promo Spesial Mts Al Washliyah Tanjung Morawa Peringati HUT AW ke-95 Bupati Deli Serdang Serahkan Aset CSR PT Evergreen kepada Yayasan SD Pelita Dalu

Opini

Anomali Antara Desain Makro Presidensiil dan Praktek Mikro Parlementerianisme Lokal

badge-check


					Anomali Antara Desain Makro Presidensiil dan Praktek Mikro Parlementerianisme Lokal Perbesar

Medan – Kompasnusa.net// Praktisi Hukum Rasyid Siddiq, S.H., sekaligus Ketua Umum Lembaga Kritik Kebijakan (LKK) Sumatera Utara memberikan catatan kritis terkait wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Menurutnya, gagasan tersebut bukan sekedar perubahan teknis, melainkan sebuah ancaman serius yang dapat melumpuhkan sistem presidensialisme di tingkat lokal.

Rasyid menegaskan bahwa esensi dari sistem presidensial adalah adanya mandat langsung dari rakyat kepada pemegang kekuasaan eksekutif. Jika mandat tersebut ditarik kembali ke tangan legislatif, maka terjadi pergeseran fundamental menuju arah parlementarianisme yang tidak sejalan dengan semangat reformasi.

​”Memilih kepala daerah melalui DPRD adalah bentuk pelemahan nyata terhadap ruh presidensialisme kita. Ketika kepala daerah dipilih oleh legislator, maka loyalitas dan legitimasi mereka tidak lagi berakar pada rakyat, melainkan pada kompromi politik di ruang sidang,” ujar Rasyid dalam pernyataannya.

​Poin-Poin Utama Pernyataan:
1. Adanya ​Degradasi Legitimasi Publik: ia berargumen bahwa kepala daerah yang dipilih langsung memiliki posisi tawar yang kuat karena memegang mandat rakyat. Sebaliknya, pemilihan oleh DPRD berisiko menjadikan kepala daerah sebagai “petugas partai” atau sekadar kepanjangan tangan elit politik lokal.
2. ​Check and Balances yang Timpang: Dalam sistem presidensial yang sehat, eksekutif dan legislatif harus saling mengimbangi. Ia menilai, jika DPRD yang memilih kepala daerah, fungsi pengawasan akan berubah menjadi relasi transaksional yang rawan praktik politik uang (money politics) di tingkat elit.
3. ​Pengebirian Hak Konstitusional: Ia mengingatkan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Mencabut hak pilih langsung warga negara adalah langkah mundur dalam demokrasi yang sudah dibangun pasca-1998.

​”Kita tidak boleh mengorbankan kualitas demokrasi hanya dengan alasan efisiensi biaya atau meminimalisir konflik sosial. Solusinya adalah memperbaiki tata kelola Pilkada langsung, bukan justru menghapusnya dan mengembalikan kedaulatan rakyat ke tangan segelintir orang di DPRD,” pungkasnya. (Imam S)

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Diduga Polisi Main Sandiwara Grebek lokasi Judi, Oknum Wartawan Terkesan Jadi Makelar

31 January 2026 - 01:23 WIB

Binjai Barat Darurat Judi Dadu dan Sabung Ayam, Polisi Diduga Main Mata

29 January 2026 - 07:53 WIB

Tanpa Surat Resmi, Karyawan PT IKD Diduga di PHK Sepihak

29 January 2026 - 06:42 WIB

Pengadaan Pojok Baca Digital 141 Desa Diduga Modus Baru Gerogoti Keuangan Daerah Secara Berjamaah

28 January 2026 - 09:46 WIB

Aroma ‘Tangkap Lepas’ di Tuntungan, Polsek Pancur Batu Tak Berani Bicara: Ada apa?

24 January 2026 - 14:56 WIB

Trending on News